Jumat, 11 Januari 2013

Edema Ginjal

TUGAS PATOLOGI UMUM
 “EDEMA GINJAL”
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :

Nama     : Trivo Rajagukguk
Nim     : 111000085
Kelas     : A

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan penulis tulisan ilmiah mengenai edema pada ginjal dengan waktu yang telah ditentukan.
Tulisan ilmiah ini dibuat sebagai tugas akhir semester mata kuliah patologi umum., yang membahas tentang edema ginjal. Topik yang penulis bahas mengenai edema ginjal dimana tekanan hidrostatik darah arterial yang tinggi yang memasuki anyaman kapiler (capillary bed) jaringan menyebabkan sebagian cairan terfiltrasi melalui dinding kapiler menuju ruang interstial. Edema ginjal disebabkan karena penyakit ginjal, albuminuria, hipoalbuminemia, dsb. Maka dengan bahasan singkat ini, penulis berharap semoga pembaca tertarik dan berminat membaca atau mempelajari edema pada ginjal.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tulisan ilmiah ini. Selain itu penulis mengucapkan teimakasih kepada bapak Dr.dr.Wirsal Hasan,MPH, selaku dosen pembimbing patologi umum yang telah memberikan arahan kepada penulis demi terselesaikannya tulisan ilmiah ini.
Tulisan ilmiah ini jauh dari kesempurnaan, sehingga segala kritik dan saran akan sangat penulis terima dengan senang hati demi kesempurnaan tulisan ilmiah ini. Penulis juga berharap tulisan ilmiah ini dapat diterima Bapak dosen. Terimakasih .




Medan,   Juni  2013

                                                                                                                          Penulis


I. PENDAHULUAN
Pada umumnya edema berarti meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler disertai dengan penimbunan cairan ini dalam sela-sela jaringan dan rongga serosa. Dapat bersifat setempat atau umum. Bila jumlah cairan dalam rongga serosa sangat berlebihan, maka terjadi ; hydrothorax, hydropericardium, hydroperitoneum atau ascites.
Edema setempat sering terjadi akibat bertambahnya permeabilitas kapiler disebabkan oleh radang. Pembengkakan kulit setempat sering terjadi akibat; reaksi alergik, gigitan atau sengatan serangga, luka besar dan infeksi atau akibat terkena zat-zat kimiawi yang tajam seperti soda bakar atau asam-asam keras.
Edema ginjal disebabkan karena penyakit ginjal, albuminuria, hipoalbuminemia, dsb. Protein plasma berkurang mengakibatkan tekanan osmotic koloid menurun. Sebagian besar tekanan osmotik ini diselenggarakan oleh albumin. Biasanya edema akan timbul bila kadar albumin lebih rendah dari 21/2 gram per 100 ml. Ciri-ciri edema ginjal (nefrotik) adalah ; Edema, Proteinuria terutama albuminuria, Hipoalbuminemi, Hiperlipemi khususnya hipercholesterolemi dan Lipiduria. Edema akibat kekurangan protein juga dapat terjadi pada kelaparan dan gizi buruk.
    Edema biasanya lebih nyata pada jaringan lunak atau jaringan ikat yang renggang, misalnya jaringan subcutis dan paru-paru. Edema pada jaringan subcutis menimbulkan pembengkakan dan tampak paling nyata pada jaringan lunak yang tekanan jaringannya rendah, seperti sekitar mata dan alat kelamin luar. Kulit diatasnya biasanya menjadi renggang. Bila daerah ini  ditekan dengan jari maka cairan terdorong, pindah dari tempat tersebut. Hal ini dinamai “pitting edema” dan lebih jelas terlihat pada tempat dengan dasar tulang seperti edema pada tungkai bawah dengan menekan pada bagian anteriomedial tibia. Mikroskopik edema biasanya Serabut  jaringan ikat terpisah jauh-jauh oleh cairan dan Warna cairan merah muda atau homogen, sedikit lebih merah, bergantung pada banyaknya protein. Alat tubuh yang sembab biasanya lebih berat dan lebih besar daripada normal.





II. PEMBAHASAN
Edema normalnya, tekanan hidrostatik darah arterial yang tinggi yang memasuki anyaman kapiler (capillary bed) jaringan menyebabkan sebagian cairan terfiltrasi melalui dinding kapiler menuju ruang interstial. Tekanan hidrostatik menuju ujung vena anyaman kapiler menurun dan kehilangan cairan menyebabkan peningkatan osmolalitas plasma karena protein plasma. Perubahan ini akan mendorong pergerakan balik cairan ke dalam darah. Perubahan tekanan hidrostatik atau osmotik kapiler dapat menyebabkan edema, yaitu akumulasi kelebihan cairan di interstisium. Edema generalisata terjadi jika volume tubuh terlalu tinggi. Hal ini terjadi pada gagal ginjal lanjut karena ginjal tidak dapat mengekskresi air atau natrium yang cukup. Namun, penyebab utamanya adalah gagal jantung kongestif, sirosis hati, dan sindrom nefrotik.
Peningkatan aktivitas simpatis yang dimediasi oleh reseptor α-adrenergik memacu reabsorpsi natrium pada tubulus proksimal dan mengurangi aliran darah ginjal melalui vasokontriksi ginjal. Vasokontriksi ini, dan setiap penurunan tekanan darah, menurunkan tekanan arteriol aferen, sehingga memacu sekresi rennin. Stimulasi reseptor β-adrenergik juga meningkatkan pelepasan rennin. Peningkatan kadar angiotensin II menyebabkan vasokontriksi lebih lanjut dan memacu reabsorpsi natrium pada tubulus proksimal. Hal tersebut juga memicu pelepasan aldosteron, yang meningkatkan reabsorpsi natrium pada tubulus distal. Stimulasi non-osmotik terhadap sekresi vasopresin meningkatkan retensi air dan, jika hal ini terjadi secara berlebihan dibandingkan dengan retensi natrium, dapat terjadi hiponatremia.  Hemodinamika ginjal mengalami hal yang sama. Peningkatan fraksi filtrasi meningkatkan tekanan osmotik kapiler peritubular, yang memacu reabsorpsi air dan natrium.
Patofisiologi edema
Edema akan terjadi bila terlalu banyak cairan memasuki ruang interstisial daripada yang dapat keluar pada saat yang sama.
Ada 3 faktor yang berperan dalam timbulnya edema:
1.    Dinding kapiler bocor sehingga molekul protein keluar dengan mudah ke dalam cairan interstisial.
Pada luka bakar berat dan pada inflamasi berat dinding kapiler demikian rusaknya sehingga molekul protein merembes keluar dan tidak dapat bertahan di dalam lumen kapiler. Akibatnya pada ujung vena tidak terdapat tekanan osmotik koloid yang akan menarik cairan kembali dan terjadilah kehilangan cairan darah yang hebat. Hal ini dapat menimbulkan keadaan bahaya yang disebut syok. Sebagai contoh sederhana, fenomena ini dapat terlihat bila kulit disengat lebah atau disuntik dengan histamin.
2.    Tekanan pada ujung-ujung kapiler vena masih cukup tinggi dan lebih tinggi dibanding dengan tekanan osmotik koloid.
Gradiasi penurunan tekanan sepanjang seluruh kapiler akan disesuaikan dengan air yang keluar. Sebab edema yang paling penting adalah berkurangnya daya pompa jantung yang disebut dekompensasi kordis. Salah satu gejala dini dari gagal jantung adalah edema pada tungkai bawah, terutama pada sore hari setelah berdiri dan berjalan sepanjang hari.
3.    Tekanan osmotik koloid darah terlalu rendah
Sebagian besar hal ini disebabkan oleh kadar albumin dalam serum yang terlalu rendah. Seperti diketahui biasanya kadar albumin adalah: 4,5 gr %. Bila kadar tersebut turun di bawah 2,5 gr % edema akan terjadi. Jumlah persediaan albumin kira-kira 140 gram, semuanya berada dalam aliran darah. Albumin hanya dibuat di dalam hati. Produksinya kira-kira 10 gr/hari, tetapi dapat meningkat hingga 15 gr/hari.
Defisiensi albumin timbul bila:
a.    Produksi berkurang
b.    Terjadi kehilangan albumin yang lebih besar dari yang dihasilkan.
Gambaran Klinis
Volume tubuh yang tinggi biasanya menaikkan tekanan vena, sehingga menimbulkan tekanan vena jugular yang tinggi. Di luar sirkulasi, terdapat edema subkutan pitting-cairan bergerak menjauh dari suatu titik yang diberi tekanan. Edema paru dapat terdengar dengan stetoskop sebagai ronki halus saat inspirasi.
Lokasi edema
Cairan edema terkumpul di jaringan longgar terletak pada bagian bawah tubuh. Di sini, gravitasi menyebabkan tekanan vena hidrostatik yang tinggi sehingga melawan reabsorpsi cairan interstisial. Secara klinis, edema dapat terlihat sebagai edema paru atau perifer di tumit, sacrum, dan skrotum. Kelebihan cairan dapat juga terakumulasi sebagai efusi, seperti efusi pleura atau asites. Pada sirosis hati, fibrosis hati dapat menyebabkan obstruksi pascasinusoid di hati. Hal ini menyebabkan pergerakan cairan ke luar hati dan ke peritoneum yang muncul sebagai asites.
Pengobatan edema
Pengobatan untuk mengurangi edema dapat dilakukan dengan cara:
1.    Pemberian furosemid (diuretik loop) intra vena.
Dibutuhkan dosis furosemid yang lebih tinggi daripada orang normal oleh karena albumin yang rendah dalam darah mengakibatkan rendahnya ikatan protein dengan diuretik yang mencapai ginjal berkurang. Loop dari Henle relatif resisten terhadap furosemid pada sindrom nefrotik. Dapat diberikan per infuse dengan dosis 0,1 – 0,4 mg/kg BB/jam dalam larutan NaCl 0,9% atau Dextr 5%.

2.     Furosemid 60 mg dimasukkan ke dalam 200 cc larutan Albumin 20% dapat mengurangi edema, efektif pada kadar albumin plasma <2 gr/dl.
Jenis-jenis edema
Edema angioneurotik ialah edema setempat yang sering timbul dalam waktu yang singkat tanpa sebab jelas.  Sering terjadi pada anggota tubuh akibat alergi atau neurogen.
Berkurangnya protein plasma:
Protein plasma berkurang mengakibatkan tekanan osmotic koloid menurun. Sebagian besar tekanan osmotik ini diselenggarakan oleh albumin. Biasanya edema akan timbul bila kadar albumin lebih rendah dari 21/2 gram per 100 ml. suatu contoh edema akibat kekurangan albumin ialah edema nefrotik, yaitu penyakit ginjal dengan ciri-ciri :
•    Edema
•    Proteinuria, terutama albuminuria
•    Hipoalbuminemi
•    Hiperlipemi, khususnya hipercholesterolemi
•    Lipiduria
Edema akibat kekurangan protein juga dapat terjadi pada kelaparan dan gizi buruk.
Edema akibat tekanan kapiler yang meninggi dapat terjadi pada:
    Kongesti pasif
Akibat obstruksi mekanik pada vena, menyebabkan tekanan darah vena meningkat, misalnya dapat terjadi pada vena illaca akibat uterus yang membesar pada kehamilan. Dalam hal ini terjadi edema pada tungkai.

    Edema kardial
Terjadi oleh karena tekanan vena meningkat akibat sirkulasi darah terganggu karena payah jantung.

    Obstruksi portal
Pada penyakit cirrhosis hepatis tekanan dalam vena portae meningkat sehingga mengakibatkan cairan dalam rongga peritoneum, yaitu terjadi ascites.

    Edema postural
Pada orang yang berdiri terus menerus dalam waktu yang lama, terjadi edema pada kaki dan pergelangan kaki.












III. KESIMPULAN
Edema berarti meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler disertai dengan penimbunan cairan ini dalam sela-sela jaringan dan rongga serosa. Dapat bersifat setempat atau umum. Bila jumlah cairan dalam rongga serosa sangat berlebihan, maka terjadi ; hydrothorax, hydropericardium, hydroperitoneum atau ascites.
Edema pada ginjal disebabkan karena penyakit ginjal, albuminuria, hipoalbuminemia, dsb. Protein plasma berkurang mengakibatkan tekanan osmotic koloid menurun. Sebagian besar tekanan osmotik ini diselenggarakan oleh albumin. Biasanya edema akan timbul bila kadar albumin lebih rendah dari 21/2 gram per 100 ml. Ciri-ciri edema ginjal (nefrotik) adalah ; Edema, Proteinuria terutama albuminuria, Hipoalbuminemi, Hiperlipemi khususnya hipercholesterolemi dan Lipiduria.
Edema tidak membutuhkan pengobatan kecuali bila mengganggu fungsi. Awalnya, restriksi natrium dapat berguna dan restriksi air juga tepat dilakukan bila terdapat hiponatremia. Diuretik tiazid atau loop memacu ekskresi natrium dan jika hipokalemia menjadi masalah, dapat digunakan diuretik hemat kalium. Pada gagal jantung, inhibitor ACE merupakan terapi lini pertama karena menghambat efek vasokontriksi dan retensi natrium dan angiotensin II (sama seperti bloker reseptor angiotensin II). Asites pada sirosis hati menghilang dengan lambat, dan sejumlah besar volume terkadang dialirkan perkutan. Diuretik diberikan secara bersamaan untuk mengurangi akumulasi cairan, dan albumin intravena dapat diberikan untuk memacu retensi cairan di sirkulasi. Oleh karena banyak pasien sirosis mengalami hiperaldosteronisme, maka deplesi kalium sering terjadi dan spironolakton digunakan untuk mengurangi kehilangan kalium.






V. DAFTAR PUSTAKA
Himawan, dr.Sutisna.1973. Kumpulan Kuliah Patologi. Jakarta : PT. Repro International
O’Callaghan, C.A, dkk.2006. The Renal System at a Glance. Jakarta : Penerbit Erlangga
Sibuea, Dr. W. Herdin, dkk.1992.Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : PT. RINEKA CIPTA
The 3rd Jakarta Nephrology & Hypertension Course.2003. Penyakit Ginjal Kronik & Glomerulopati:Aspek Klinik & Patologi Ginjal Pengelolaan Hipertensi Saai Ini. Jakarta : PERNEFRI









Minggu, 30 Desember 2012

Tugas Perencanaan Kesehatan Trivo



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penyakit saluran pernafasan mempunyai sumber yang paling penting pada status kesehatan yang buruk dan mortalitas di kalangan anak berusia balita. Penyebab utamanya adalah karena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) atau Acute Respiratory Infection (ARI) baik yang disebabkan oleh bakteri maupun karena virus (WHO, 2009). ISPA adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih di saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas), hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga tulang tengah dan selaput pleura (Depkes, 2009). Populasi yang rentan terkena ISPA adalah anak usia balita yaitu berkisar 0-5 tahun. Sebagian besar dari infeksi saluran pernafasan bersifat ringan seperti batuk, pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Namun, apabila infeksi yang bersifat ringan tersebut mengarah ke infeksi berat menyebabkan pneumonia dan mengakibatkan kematian pada anak balita.
Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai jumlah penduduk yang besar yaitu tahun 2011 mencapai 241.182.182 jiwa (Profil Kesehatan Indonesia, 2011). Meningkatnya kepadatan penduduk di Indonesia ditunjang oleh meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. Angka mortalitas yang terus meningkat disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh maupun karena penyakit kronik dan akut. Hal ini pun terjadi pada anak balita yang kehidupannya sangat rentan oleh penyakit.
Menurut data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 di Indonesia merupakan kasus ISPA di masyarakat diperkirakan sebanyak 10% dari populasi. Provinsi Jawa Barat adalah salah satu provinsi kedua terbesar yang endemik ISPA dengan persentase sebesar 42,50%. Daerah endemik pertama adalah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan persentase 56,50%. Sementara itu pada tahun 2011 di Indonesia kasus ISPA terbesar terdapat di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 72,76%, dan ISPA kedua terbesar terdapat di provinsi DKI Jakarta sebesar 42,36% dan ketiga di provinsi Jawa Barat sebesar 39,11% (Kemenkes RI, 2011).
Untuk mengurangi kemungkinan terkena ISPA dapat dilakukan upaya pencegahan. Pencegahan merupakan faktor yang harus diprioritaskan dalam mengatasi masalah kesehatan sehingga diharapkan terjadi penurunan yang berarti terhadap angka kesakitan dan kematian akibat suatu penyakit (Anderson & Judith, 2006).

1.2  Permasalahan
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan diatas maka penulis ingin mencoba untuk mengemukakan upaya pencegahan ISPA dengan prioritas kepada penatalaksanaan kasus ISPA pada bayi dan anak-anak. Mengingat tujuan pembangunan kesehatan dalam upaya menurunkan angka mortalitas dan morbilitas, sehingga tujuan pembangunan nasional untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas baik, fisik maupun mental akan tercapai.

1.3  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengidentifikasi mengenai penyakit ISPA di Nusa Tenggara Barat (NTB)
2.      Memberikan upaya pencegahan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya ISPA
3.      Membuat perencanaan kedepan bagaimana untuk menanggulangi ISPA

1.4  Manfaat
        Melalui tulisan ini diharapkan  penulis dan pembaca dapat lebih memahami tentang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan cara pencegahannya.










BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Defenisi ISPA
ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas. Yang benar ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru. Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.
Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik.
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Kelainan pada sistem pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan ibro kistik, menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri. Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin. Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.

2.2.Tanda-tanda bahaya
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.
Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris.
Tanda-tanda klinis
• Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
• Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest.
• Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.
• Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.

Tanda-tanda laboratoris
• hypoxemia,
• hypercapnia dan
• acydosis (metabolik dan atau respiratorik) (4).

Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing, demam dan dingin (4).


BAB III
PENATALAKSANAAN KASUS ISPA

Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) .
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA. Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :
3.1. Pemeriksaan
Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan mendengarkan anak. Hal ini penting agar selama pemeriksaan anak tidak menangis (bila menangis akan meningkatkan frekuensi napas), untuk ini diusahakan agar anak tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat dilakukan tanpa membuka baju anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit untuk melihat gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju anak harus dibuka sedikit. Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop penyakit pneumonia dapat didiagnosa dan diklassifikasi.

3.2. Klasifikasi ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
• Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing).
• Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
• Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun.
Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :
• Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
• Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

Untuk golongan umur 2 bu~an sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :
• Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).
• Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
• Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.

3.3. Pengobatan
• Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigendan sebagainya.
• Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
• Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila
pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari. Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan tanda bahaya harus diberikan perawatan khusus untuk pemeriksaan selanjutnya. Petunjuk dosis dapat dilihat pada lampiran.

3.4 Perawatan dirumah
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA.
Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.
Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

3.5. Pencegahan dan Pemberantasan
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
• Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
• Immunisasi.
• Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan.
• Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

Pemberantasan yang dilakukan adalah :
      • Penyuluhan kesehatan yang terutama di tuj ukan pada para ibu.
      • Pengelolaan kasus yang disempurnakan.
• Immunisasi.

Pelaksana pemberantasan
Tugas pemberatasan penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama. Kepala Puskesmas bertanggung jawab bagi keberhasilan pemberantasan di wilayah kerjanya. Sebagian besar kematiaan akibat penyakit pneumonia terjadi sebelum penderita mendapat pengobatan petugas Puskesmas. Karena itu peran serta aktif masyarakat melalui aktifitas kader akan sangat'membantu menemukan kasus-kasus pneumonia yang perlu mendapat pengobatan antibiotik (kotrimoksasol) dan kasus-kasus pneumonia berat yang perlusegera dirujuk ke rumah sakit .
Dokter puskesmas mempunyai tugas sebagai berikut :
• Membuat rencana aktifitas pemberantasan ISPA sesuai dengan dana atau sarana dan tenaga yang tersedia.
• Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA kepada perawat atau paramedis.
• Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus- kasus pneumonia berat/penyakit dengan tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis dan merujuknya ke rumah sakit bila dianggap perlu.
• Memberikan pengobatan kasus pneumonia berat yang tidak bisa dirujuk ke rumah sakit.
• Bersama dengan staff puskesmas memberi kan penyuluhan kepada ibu-ibu yang mempunyai anak balita. perihal pengenalan tanda-tanda penyakit pneumonia serta tindakan penunjang di rumah,
• Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang di beri wewenang mengobati penderita penyakit ISPA,
• Melatih kader untuk bisa, mengenal kasus pneumonia serta dapat memberikan penyuluhan terhadap ibu-ibu tentang penyaki ISPA,
• Memantau aktifitas pemberantasan dan melakukan evaluasi keberhasilan pemberantasan penyakit ISPA. menditeksi hambatan yang ada serta menanggulanginya termasuk aktifitas pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target.

Paramedis Puskesmas Puskesmas pembantu
• Melakukan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA sesuai petunjuk yang ada.
• Melakukan konsultasi kepada dokter Puskesmas untuk kasus-kasus ISPA tertentu seperti pneumoni berat, penderita dengan weezhing dan stridor.
• Bersama dokter atau dibawah, petunjuk dokter melatih kader.
• Memberi penyuluhan terutama kepada ibu-ibu.
• Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan Puskesmas sehubungan dengan pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA.

Kader kesehatan
• Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia.
• Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit
• Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan pneumonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih.
• Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat.
• Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di daerah-daerah yang terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat) dengan antibiotik kontrimoksasol.
• Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk.





Minggu, 29 Juli 2012

Yerusalem Baru

Wahyu 21 : 1 -22
1Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.  
 2Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
3Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ''Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.  
4Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.''  
5Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: ''Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!'' Dan firman-Nya: ''Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.''  
6Firman-Nya lagi kepadaku: ''Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.  
7Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.  
8Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.''  
9Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: ''Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.''  
10Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah.  
11Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.  
12Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel.  
13Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang.  
14Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.  
15Dan ia, yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya.  
16Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.  
17Lalu ia mengukur temboknya: seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.  
18Tembok itu terbuat dari permata yaspis; dan kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni.  
19Dan dasar-dasar tembok kota itu dihiasi dengan segala jenis permata. Dasar yang pertama batu yaspis, dasar yang kedua batu nilam, dasar yang ketiga batu mirah, dasar yang keempat batu zamrud,  
20dasar yang kelima batu unam, dasar yang keenam batu sardis, dasar yang ketujuh batu ratna cempaka, yang kedelapan batu beril, yang kesembilan batu krisolit, yang kesepuluh batu krisopras, yang kesebelas batu lazuardi dan yang kedua belas batu kecubung.  
21Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.  
22Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.  (ini aku copas)