TUGAS PATOLOGI UMUM
“EDEMA GINJAL”
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
Nama : Trivo Rajagukguk
Nim : 111000085
Kelas : A
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan penulis tulisan ilmiah mengenai edema pada ginjal dengan waktu yang telah ditentukan.
Tulisan ilmiah ini dibuat sebagai tugas akhir semester mata kuliah patologi umum., yang membahas tentang edema ginjal. Topik yang penulis bahas mengenai edema ginjal dimana tekanan hidrostatik darah arterial yang tinggi yang memasuki anyaman kapiler (capillary bed) jaringan menyebabkan sebagian cairan terfiltrasi melalui dinding kapiler menuju ruang interstial. Edema ginjal disebabkan karena penyakit ginjal, albuminuria, hipoalbuminemia, dsb. Maka dengan bahasan singkat ini, penulis berharap semoga pembaca tertarik dan berminat membaca atau mempelajari edema pada ginjal.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tulisan ilmiah ini. Selain itu penulis mengucapkan teimakasih kepada bapak Dr.dr.Wirsal Hasan,MPH, selaku dosen pembimbing patologi umum yang telah memberikan arahan kepada penulis demi terselesaikannya tulisan ilmiah ini.
Tulisan ilmiah ini jauh dari kesempurnaan, sehingga segala kritik dan saran akan sangat penulis terima dengan senang hati demi kesempurnaan tulisan ilmiah ini. Penulis juga berharap tulisan ilmiah ini dapat diterima Bapak dosen. Terimakasih .
Medan, Juni 2013
Penulis
I. PENDAHULUAN
Pada umumnya edema berarti meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler disertai dengan penimbunan cairan ini dalam sela-sela jaringan dan rongga serosa. Dapat bersifat setempat atau umum. Bila jumlah cairan dalam rongga serosa sangat berlebihan, maka terjadi ; hydrothorax, hydropericardium, hydroperitoneum atau ascites.
Edema setempat sering terjadi akibat bertambahnya permeabilitas kapiler disebabkan oleh radang. Pembengkakan kulit setempat sering terjadi akibat; reaksi alergik, gigitan atau sengatan serangga, luka besar dan infeksi atau akibat terkena zat-zat kimiawi yang tajam seperti soda bakar atau asam-asam keras.
Edema ginjal disebabkan karena penyakit ginjal, albuminuria, hipoalbuminemia, dsb. Protein plasma berkurang mengakibatkan tekanan osmotic koloid menurun. Sebagian besar tekanan osmotik ini diselenggarakan oleh albumin. Biasanya edema akan timbul bila kadar albumin lebih rendah dari 21/2 gram per 100 ml. Ciri-ciri edema ginjal (nefrotik) adalah ; Edema, Proteinuria terutama albuminuria, Hipoalbuminemi, Hiperlipemi khususnya hipercholesterolemi dan Lipiduria. Edema akibat kekurangan protein juga dapat terjadi pada kelaparan dan gizi buruk.
Edema biasanya lebih nyata pada jaringan lunak atau jaringan ikat yang renggang, misalnya jaringan subcutis dan paru-paru. Edema pada jaringan subcutis menimbulkan pembengkakan dan tampak paling nyata pada jaringan lunak yang tekanan jaringannya rendah, seperti sekitar mata dan alat kelamin luar. Kulit diatasnya biasanya menjadi renggang. Bila daerah ini ditekan dengan jari maka cairan terdorong, pindah dari tempat tersebut. Hal ini dinamai “pitting edema” dan lebih jelas terlihat pada tempat dengan dasar tulang seperti edema pada tungkai bawah dengan menekan pada bagian anteriomedial tibia. Mikroskopik edema biasanya Serabut jaringan ikat terpisah jauh-jauh oleh cairan dan Warna cairan merah muda atau homogen, sedikit lebih merah, bergantung pada banyaknya protein. Alat tubuh yang sembab biasanya lebih berat dan lebih besar daripada normal.
II. PEMBAHASAN
Edema normalnya, tekanan hidrostatik darah arterial yang tinggi yang memasuki anyaman kapiler (capillary bed) jaringan menyebabkan sebagian cairan terfiltrasi melalui dinding kapiler menuju ruang interstial. Tekanan hidrostatik menuju ujung vena anyaman kapiler menurun dan kehilangan cairan menyebabkan peningkatan osmolalitas plasma karena protein plasma. Perubahan ini akan mendorong pergerakan balik cairan ke dalam darah. Perubahan tekanan hidrostatik atau osmotik kapiler dapat menyebabkan edema, yaitu akumulasi kelebihan cairan di interstisium. Edema generalisata terjadi jika volume tubuh terlalu tinggi. Hal ini terjadi pada gagal ginjal lanjut karena ginjal tidak dapat mengekskresi air atau natrium yang cukup. Namun, penyebab utamanya adalah gagal jantung kongestif, sirosis hati, dan sindrom nefrotik.
Peningkatan aktivitas simpatis yang dimediasi oleh reseptor α-adrenergik memacu reabsorpsi natrium pada tubulus proksimal dan mengurangi aliran darah ginjal melalui vasokontriksi ginjal. Vasokontriksi ini, dan setiap penurunan tekanan darah, menurunkan tekanan arteriol aferen, sehingga memacu sekresi rennin. Stimulasi reseptor β-adrenergik juga meningkatkan pelepasan rennin. Peningkatan kadar angiotensin II menyebabkan vasokontriksi lebih lanjut dan memacu reabsorpsi natrium pada tubulus proksimal. Hal tersebut juga memicu pelepasan aldosteron, yang meningkatkan reabsorpsi natrium pada tubulus distal. Stimulasi non-osmotik terhadap sekresi vasopresin meningkatkan retensi air dan, jika hal ini terjadi secara berlebihan dibandingkan dengan retensi natrium, dapat terjadi hiponatremia. Hemodinamika ginjal mengalami hal yang sama. Peningkatan fraksi filtrasi meningkatkan tekanan osmotik kapiler peritubular, yang memacu reabsorpsi air dan natrium.
Patofisiologi edema
Edema akan terjadi bila terlalu banyak cairan memasuki ruang interstisial daripada yang dapat keluar pada saat yang sama.
Ada 3 faktor yang berperan dalam timbulnya edema:
1. Dinding kapiler bocor sehingga molekul protein keluar dengan mudah ke dalam cairan interstisial.
Pada luka bakar berat dan pada inflamasi berat dinding kapiler demikian rusaknya sehingga molekul protein merembes keluar dan tidak dapat bertahan di dalam lumen kapiler. Akibatnya pada ujung vena tidak terdapat tekanan osmotik koloid yang akan menarik cairan kembali dan terjadilah kehilangan cairan darah yang hebat. Hal ini dapat menimbulkan keadaan bahaya yang disebut syok. Sebagai contoh sederhana, fenomena ini dapat terlihat bila kulit disengat lebah atau disuntik dengan histamin.
2. Tekanan pada ujung-ujung kapiler vena masih cukup tinggi dan lebih tinggi dibanding dengan tekanan osmotik koloid.
Gradiasi penurunan tekanan sepanjang seluruh kapiler akan disesuaikan dengan air yang keluar. Sebab edema yang paling penting adalah berkurangnya daya pompa jantung yang disebut dekompensasi kordis. Salah satu gejala dini dari gagal jantung adalah edema pada tungkai bawah, terutama pada sore hari setelah berdiri dan berjalan sepanjang hari.
3. Tekanan osmotik koloid darah terlalu rendah
Sebagian besar hal ini disebabkan oleh kadar albumin dalam serum yang terlalu rendah. Seperti diketahui biasanya kadar albumin adalah: 4,5 gr %. Bila kadar tersebut turun di bawah 2,5 gr % edema akan terjadi. Jumlah persediaan albumin kira-kira 140 gram, semuanya berada dalam aliran darah. Albumin hanya dibuat di dalam hati. Produksinya kira-kira 10 gr/hari, tetapi dapat meningkat hingga 15 gr/hari.
Defisiensi albumin timbul bila:
a. Produksi berkurang
b. Terjadi kehilangan albumin yang lebih besar dari yang dihasilkan.
Gambaran Klinis
Volume tubuh yang tinggi biasanya menaikkan tekanan vena, sehingga menimbulkan tekanan vena jugular yang tinggi. Di luar sirkulasi, terdapat edema subkutan pitting-cairan bergerak menjauh dari suatu titik yang diberi tekanan. Edema paru dapat terdengar dengan stetoskop sebagai ronki halus saat inspirasi.
Lokasi edema
Cairan edema terkumpul di jaringan longgar terletak pada bagian bawah tubuh. Di sini, gravitasi menyebabkan tekanan vena hidrostatik yang tinggi sehingga melawan reabsorpsi cairan interstisial. Secara klinis, edema dapat terlihat sebagai edema paru atau perifer di tumit, sacrum, dan skrotum. Kelebihan cairan dapat juga terakumulasi sebagai efusi, seperti efusi pleura atau asites. Pada sirosis hati, fibrosis hati dapat menyebabkan obstruksi pascasinusoid di hati. Hal ini menyebabkan pergerakan cairan ke luar hati dan ke peritoneum yang muncul sebagai asites.
Pengobatan edema
Pengobatan untuk mengurangi edema dapat dilakukan dengan cara:
1. Pemberian furosemid (diuretik loop) intra vena.
Dibutuhkan dosis furosemid yang lebih tinggi daripada orang normal oleh karena albumin yang rendah dalam darah mengakibatkan rendahnya ikatan protein dengan diuretik yang mencapai ginjal berkurang. Loop dari Henle relatif resisten terhadap furosemid pada sindrom nefrotik. Dapat diberikan per infuse dengan dosis 0,1 – 0,4 mg/kg BB/jam dalam larutan NaCl 0,9% atau Dextr 5%.
2. Furosemid 60 mg dimasukkan ke dalam 200 cc larutan Albumin 20% dapat mengurangi edema, efektif pada kadar albumin plasma <2 gr/dl.
Jenis-jenis edema
Edema angioneurotik ialah edema setempat yang sering timbul dalam waktu yang singkat tanpa sebab jelas. Sering terjadi pada anggota tubuh akibat alergi atau neurogen.
Berkurangnya protein plasma:
Protein plasma berkurang mengakibatkan tekanan osmotic koloid menurun. Sebagian besar tekanan osmotik ini diselenggarakan oleh albumin. Biasanya edema akan timbul bila kadar albumin lebih rendah dari 21/2 gram per 100 ml. suatu contoh edema akibat kekurangan albumin ialah edema nefrotik, yaitu penyakit ginjal dengan ciri-ciri :
• Edema
• Proteinuria, terutama albuminuria
• Hipoalbuminemi
• Hiperlipemi, khususnya hipercholesterolemi
• Lipiduria
Edema akibat kekurangan protein juga dapat terjadi pada kelaparan dan gizi buruk.
Edema akibat tekanan kapiler yang meninggi dapat terjadi pada:
Kongesti pasif
Akibat obstruksi mekanik pada vena, menyebabkan tekanan darah vena meningkat, misalnya dapat terjadi pada vena illaca akibat uterus yang membesar pada kehamilan. Dalam hal ini terjadi edema pada tungkai.
Edema kardial
Terjadi oleh karena tekanan vena meningkat akibat sirkulasi darah terganggu karena payah jantung.
Obstruksi portal
Pada penyakit cirrhosis hepatis tekanan dalam vena portae meningkat sehingga mengakibatkan cairan dalam rongga peritoneum, yaitu terjadi ascites.
Edema postural
Pada orang yang berdiri terus menerus dalam waktu yang lama, terjadi edema pada kaki dan pergelangan kaki.
III. KESIMPULAN
Edema berarti meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler disertai dengan penimbunan cairan ini dalam sela-sela jaringan dan rongga serosa. Dapat bersifat setempat atau umum. Bila jumlah cairan dalam rongga serosa sangat berlebihan, maka terjadi ; hydrothorax, hydropericardium, hydroperitoneum atau ascites.
Edema pada ginjal disebabkan karena penyakit ginjal, albuminuria, hipoalbuminemia, dsb. Protein plasma berkurang mengakibatkan tekanan osmotic koloid menurun. Sebagian besar tekanan osmotik ini diselenggarakan oleh albumin. Biasanya edema akan timbul bila kadar albumin lebih rendah dari 21/2 gram per 100 ml. Ciri-ciri edema ginjal (nefrotik) adalah ; Edema, Proteinuria terutama albuminuria, Hipoalbuminemi, Hiperlipemi khususnya hipercholesterolemi dan Lipiduria.
Edema tidak membutuhkan pengobatan kecuali bila mengganggu fungsi. Awalnya, restriksi natrium dapat berguna dan restriksi air juga tepat dilakukan bila terdapat hiponatremia. Diuretik tiazid atau loop memacu ekskresi natrium dan jika hipokalemia menjadi masalah, dapat digunakan diuretik hemat kalium. Pada gagal jantung, inhibitor ACE merupakan terapi lini pertama karena menghambat efek vasokontriksi dan retensi natrium dan angiotensin II (sama seperti bloker reseptor angiotensin II). Asites pada sirosis hati menghilang dengan lambat, dan sejumlah besar volume terkadang dialirkan perkutan. Diuretik diberikan secara bersamaan untuk mengurangi akumulasi cairan, dan albumin intravena dapat diberikan untuk memacu retensi cairan di sirkulasi. Oleh karena banyak pasien sirosis mengalami hiperaldosteronisme, maka deplesi kalium sering terjadi dan spironolakton digunakan untuk mengurangi kehilangan kalium.
V. DAFTAR PUSTAKA
Himawan, dr.Sutisna.1973. Kumpulan Kuliah Patologi. Jakarta : PT. Repro International
O’Callaghan, C.A, dkk.2006. The Renal System at a Glance. Jakarta : Penerbit Erlangga
Sibuea, Dr. W. Herdin, dkk.1992.Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : PT. RINEKA CIPTA
The 3rd Jakarta Nephrology & Hypertension Course.2003. Penyakit Ginjal Kronik & Glomerulopati:Aspek Klinik & Patologi Ginjal Pengelolaan Hipertensi Saai Ini. Jakarta : PERNEFRI
Jumat, 11 Januari 2013
Minggu, 30 Desember 2012
Tugas Perencanaan Kesehatan Trivo
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit
saluran pernafasan mempunyai sumber yang paling penting pada status kesehatan
yang buruk dan mortalitas di kalangan anak berusia balita. Penyebab utamanya
adalah karena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) atau Acute Respiratory
Infection (ARI) baik yang disebabkan oleh bakteri maupun karena virus (WHO, 2009).
ISPA adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih
di saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas), hingga alveoli (saluran
bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga tulang tengah dan
selaput pleura (Depkes, 2009). Populasi yang rentan terkena ISPA adalah anak
usia balita yaitu berkisar 0-5 tahun. Sebagian besar dari infeksi saluran
pernafasan bersifat ringan seperti batuk, pilek dan tidak memerlukan pengobatan
dengan antibiotik. Namun, apabila infeksi yang bersifat ringan tersebut
mengarah ke infeksi berat menyebabkan pneumonia dan mengakibatkan kematian pada
anak balita.
Indonesia
merupakan salah satu Negara yang mempunyai jumlah penduduk yang besar yaitu tahun
2011 mencapai 241.182.182 jiwa (Profil Kesehatan Indonesia, 2011). Meningkatnya
kepadatan penduduk di Indonesia ditunjang oleh meningkatnya angka morbiditas
dan mortalitas. Angka mortalitas yang terus meningkat disebabkan oleh penurunan
daya tahan tubuh maupun karena penyakit kronik dan akut. Hal ini pun terjadi
pada anak balita yang kehidupannya sangat rentan oleh penyakit.
Menurut
data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 di Indonesia merupakan kasus
ISPA di masyarakat diperkirakan sebanyak 10% dari populasi. Provinsi Jawa Barat
adalah salah satu provinsi kedua terbesar yang endemik ISPA dengan persentase
sebesar 42,50%. Daerah endemik pertama adalah provinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB) dengan persentase 56,50%. Sementara itu pada tahun 2011 di Indonesia
kasus ISPA terbesar terdapat di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar
72,76%, dan ISPA kedua terbesar terdapat di provinsi DKI Jakarta sebesar 42,36%
dan ketiga di provinsi Jawa Barat sebesar 39,11% (Kemenkes RI, 2011).
Untuk
mengurangi kemungkinan terkena ISPA dapat dilakukan upaya pencegahan.
Pencegahan merupakan faktor yang harus diprioritaskan dalam mengatasi masalah
kesehatan sehingga diharapkan terjadi penurunan yang berarti terhadap angka
kesakitan dan kematian akibat suatu penyakit (Anderson & Judith, 2006).
1.2 Permasalahan
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan diatas maka penulis ingin
mencoba untuk mengemukakan upaya pencegahan ISPA dengan prioritas kepada
penatalaksanaan kasus ISPA pada bayi dan anak-anak. Mengingat tujuan
pembangunan kesehatan dalam upaya menurunkan angka mortalitas dan morbilitas,
sehingga tujuan pembangunan nasional untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas
baik, fisik maupun mental akan tercapai.
1.3 Tujuan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk
mengidentifikasi mengenai penyakit ISPA di Nusa Tenggara Barat (NTB)
2. Memberikan
upaya pencegahan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya ISPA
3. Membuat
perencanaan kedepan bagaimana untuk menanggulangi ISPA
1.4 Manfaat
Melalui
tulisan ini diharapkan penulis dan
pembaca dapat lebih memahami tentang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan
cara pencegahannya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Defenisi ISPA
ISPA sering disalah artikan
sebagai infeksi saluran pernapasan atas. Yang benar ISPA merupakan singkatan
dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian
atas dan saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah infeksi saluran
pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran
pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta
organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru.
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti
batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian
anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan
antibiotik dapat mengakibat kematian.
Program Pemberantasan
Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan
yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu
pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti
rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya
digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit
jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik.
Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila
ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut
harus mendapat antibiotik.
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara
pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran
pernapasannya. Kelainan pada sistem pernapasan terutama infeksi saluran
pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan ibro kistik, menempati bagian yang
cukup besar pada lapangan pediatri. Infeksi saluran pernapasan bagian atas
terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan
masyarakat pada bulan-bulan musim dingin. Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi
pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang
dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene. Risiko terutama
terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban
immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing,
serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.
2.2.Tanda-tanda bahaya
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan
keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit
mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh
dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam
kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun
demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak
menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar
tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.
Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis
dan tanda-tanda laboratoris.
Tanda-tanda
klinis
• Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur
(apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas
lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
• Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam,
hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest.
• Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit
kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.
• Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.
Tanda-tanda
laboratoris
• hypoxemia,
• hypercapnia dan
• acydosis (metabolik dan atau respiratorik) (4).
Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun
adalah: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk,
sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah:
kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume
yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing, demam dan
dingin (4).
BAB III
PENATALAKSANAAN KASUS ISPA
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus
yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program
(turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat
batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) .
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk
standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan
antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan
obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula
petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan
penunjang yang penting bagi pederita ISPA. Penatalaksanaan ISPA meliputi
langkah atau tindakan sebagai berikut :
3.1. Pemeriksaan
Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak
dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan mendengarkan
anak. Hal ini penting agar selama pemeriksaan anak tidak menangis (bila
menangis akan meningkatkan frekuensi napas), untuk ini diusahakan agar anak
tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat dilakukan tanpa membuka baju
anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit untuk melihat gerakan
dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju anak harus dibuka sedikit.
Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop penyakit pneumonia dapat didiagnosa
dan diklassifikasi.
3.2. Klasifikasi ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai
berikut:
• Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan
dinding dada kedalam (chest indrawing).
• Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
• Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa
disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat.
Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.
Berdasarkan
hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA. Klasifikasi ini
dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan
sampai 5 tahun.
Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2
klasifikasi penyakit yaitu :
• Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat
dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan
umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
• Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda
tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.
Untuk golongan umur 2 bu~an sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi
penyakit yaitu :
• Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan
dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat
diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).
• Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah
untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4
tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
• Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan
dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.
3.3. Pengobatan
• Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik
parenteral, oksigendan sebagainya.
• Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila
penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik
pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
• Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan
perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau
obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti
kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun
panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila
pada pemeriksaan
tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar
getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman
streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari. Tanda
bahaya setiap bayi atau anak dengan tanda bahaya harus diberikan perawatan
khusus untuk pemeriksaan selanjutnya. Petunjuk dosis dapat dilihat pada
lampiran.
3.4
Perawatan dirumah
Beberapa
hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita
ISPA.
Mengatasi
panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan
samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres,
bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4
kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai
dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan
menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat
batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh
dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.
Pemberian makanan
Berikan makanan yang
cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari
biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap
diteruskan.
Pemberian minuman
Usahakan pemberian
cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini
akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit
yang diderita.
Lain-lain
Tidak dianjurkan
mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada
anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat
kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan
tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap.
Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk
membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat
antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut
diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang
mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali
kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.
3.5.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pencegahan
dapat dilakukan dengan :
•
Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
•
Immunisasi.
•
Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan.
•
Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
Pemberantasan
yang dilakukan adalah :
• Penyuluhan kesehatan yang terutama di
tuj ukan pada para ibu.
• Pengelolaan kasus yang disempurnakan.
•
Immunisasi.
Pelaksana pemberantasan
Tugas
pemberatasan penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama. Kepala Puskesmas
bertanggung jawab bagi keberhasilan pemberantasan di wilayah kerjanya. Sebagian
besar kematiaan akibat penyakit pneumonia terjadi sebelum penderita mendapat
pengobatan petugas Puskesmas. Karena itu peran serta aktif masyarakat melalui
aktifitas kader akan sangat'membantu menemukan kasus-kasus pneumonia yang perlu
mendapat pengobatan antibiotik (kotrimoksasol) dan kasus-kasus pneumonia berat
yang perlusegera dirujuk ke rumah sakit .
Dokter puskesmas mempunyai tugas sebagai berikut :
•
Membuat rencana aktifitas pemberantasan ISPA sesuai dengan dana atau sarana dan
tenaga yang tersedia.
•
Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan penatalaksanaan standar
kasus-kasus ISPA kepada perawat atau paramedis.
•
Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus- kasus pneumonia berat/penyakit dengan
tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis dan merujuknya ke rumah
sakit bila dianggap perlu.
•
Memberikan pengobatan kasus pneumonia berat yang tidak bisa dirujuk ke rumah
sakit.
•
Bersama dengan staff puskesmas memberi kan penyuluhan kepada ibu-ibu yang
mempunyai anak balita. perihal pengenalan tanda-tanda penyakit pneumonia serta
tindakan penunjang di rumah,
•
Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang di beri wewenang
mengobati penderita penyakit ISPA,
•
Melatih kader untuk bisa, mengenal kasus pneumonia serta dapat memberikan
penyuluhan terhadap ibu-ibu tentang penyaki ISPA,
•
Memantau aktifitas pemberantasan dan melakukan evaluasi keberhasilan
pemberantasan penyakit ISPA. menditeksi hambatan yang ada serta
menanggulanginya termasuk aktifitas pencatatan dan pelaporan serta pencapaian
target.
Paramedis Puskesmas Puskesmas pembantu
•
Melakukan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA sesuai petunjuk yang ada.
•
Melakukan konsultasi kepada dokter Puskesmas untuk kasus-kasus ISPA tertentu
seperti pneumoni berat, penderita dengan weezhing dan stridor.
•
Bersama dokter atau dibawah, petunjuk dokter melatih kader.
•
Memberi penyuluhan terutama kepada ibu-ibu.
•
Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan Puskesmas sehubungan
dengan pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA.
Kader kesehatan
•
Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia
tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia.
•
Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan
pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang
perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit
•
Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan pneumonia)
dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih.
•
Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat.
•
Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di daerah-daerah yang
terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak menjangkau daerah
tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat)
dengan antibiotik kontrimoksasol.
•
Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk.
Minggu, 29 Juli 2012
Yerusalem Baru
Wahyu 21 : 1 -22
| 1 | Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 2 | Dan
aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga,
dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan
untuk suaminya.
|
Langganan:
Postingan (Atom)

